Sabtu, 02 Juli 2011

Gunung Ciremai 

ciremai  



Gunung Ciremai (3.078 mdpl) merupakan gunung berapi yang masih aktif dan bertipe Strato. Secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare. Gunung Ciremai memiliki dua kawah utama, Kawah barat dan Kawah Timur, serta kawah letusan kecil Gua Walet.

Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT. Gunung ini memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya di pulau Jawa, seperti juga Gunung Slamet, gunung ini terpisah dari gunung-gunung tinggi lainnya, tetapi Gunung Ciremai ini lebih dekat dengan Laut Jawa. Kegiatannya yang terakhir tercatat pada tahun 1973, berupa gempa tektonik yang cukup kuat.



 kawah ciremai

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, dapat didaki dari arah timur melalui Linggarjati (580 m.dpl), dari arah selatan melalui Palutungan (1.227 m.dpl) dan dari arah barat melalui Maja (lewat Apui dan lewat Argalingga). Jalur Linggarjati dan jalur Palutungan adalah jalur yang paling banyak dilalui, dan merupakan jalur yang dianjurkan oleh pihak PERHUTANI pengelola kawasan hutan di sekitar Gunung Ciremai.Desa Linggarjati merupakan gerbang utama pendakian ke Gunung Ciremai. Untuk mencapainya, dari terminal Cirebon atau dari Jakarta, kita naik bus jurusan Kuningan dan turun di Terminal Cilimus atau di pertigaan menuju pusat Desa Linggarjati, dan meneruskan perjalanan ke Desa Linggarjati dengan minibus.

Di Desa Linggarjati ini terdapat penginapan, salah satunya adalah Pesanggrahan di kawasan Taman Wisata Linggarjati Indah dan Siliwangi Park Resort. Walau begitu kita bisa dengan mudah mendapatkan tempat bermalam di Balai Desa atau dirumah-rumah, dengan biaya sukarela saja. Walaupun warung-warung juga tersedia, bila bermalam di rumah-rumah penduduk ini, kita bisa memasak sendiri.

Fasilitas telepon kartu dapat kita jumpai di Taman Wisata Linggarjati Indah, dan WARTEL hanya tersedia di Cilimus, dimana kita bisa menerima dan mengirim facsimile (Telp/Fax No. 0232-63112). Desa Linggarjati merupakan desa yang bersejarah, dimana kita bisa mengunjungi Gedung Linggarjati, yang dijadikan museum untuk mengenang perjanjian Linggarjati yang dilaksanakan tahun 1946. Setelah pendakian, bila ingin menikmati mandi air panas yang alami, kita bisa menuju ke Desa Sangkan Hurip, ± 4 km ke arah timur Linggarjati, dimana terdapat permandian air panas yang mengandung yodium, berbeda dengan tempat lain yang biasanya mengandung belerang. Kita juga bisa berwisata di Taman Wisata Linggarjati Indah, dimana tersedia fasilitas kolam renang.

Jalur Linggarjati

Jalur pendakian dari Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Dibandingkan dengan jalur lain, jalur Palutungan misalnya, jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini air hanya terdapat di Cibunar.

Dari Desa Linggarjati berjalan lurus, kurang lebih 1/2 jam, mengikuti jalan desa melewati hutan pinus, kita akan sampai di Cibunar (750 m.dpl). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber air dan lurus ke arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar ini.


crater

Persediaan air hendaknya dipersiapkan disini untuk perjalanan pulang pergi, karena setelah ini tidak ada lagi mata air. Dari Cibunar, kita mulai mendaki melewati perladangan dan hutan Pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar (1.285 m.dpl), Condang Amis (1.350 m.dpl), dan Blok Kuburan Kuda (1.580 m.dpl), disini kita dapat mendirikan tenda. Dari Cibunar sampai ke Blok Kuburan Kuda dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam.

Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap (1.790 m.dpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 m.dpl) dimana kita bisa temui pohon-pohon palem merah. Selanjutnya kita lewati Tanjakan Seruni (2.080 m.dpl), dan Bapa Tere (2.200 m.dpl), kemudian kita sampai di Batu Lingga (2.400m.dpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar ditengah jalur. Menurut cerita rakyat, dasar kawah Gunung Ciremai sama tingginya dengan Batu Lingga ini. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai ke Batu Lingga ini memakan waktu sekitar 3 - 4 jam. Di beberapa pos, kita dapat jumpai nama tempat tersebut, walaupun kadang kurang jelas karena dirusak.

 ciremai  
Dari Batu Lingga kita akan melewati Sangga Buana Bawah (2.545 m.dpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 m.dpl), mulai di jalur ini kita bisa memandang kearah pantai Cirebon. Burungburung juga akan lebih mudah kita jumpai di daerah ini, dan selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 m dpl), yang dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Batu Lingga. Di sekitar Pengasinan ini akan dijumpai Edelweis Jawa (Bunga Salju) yang langka itu, namun dari waktu ke waktu semakin berkurang populasinya. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga atau Sunan Cirebon (3.078 m.dpl) masih dibutuhkan waktu sekitar 0,5 jam lagi, dengan melewati jalur yang berbatu-batu.

Dari puncak, akan kita saksikan pemandangan kawah-kawah Gunung Ciremai yang fantastis. Bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet dan gunung-gunung di Jawa Barat. Pemandangan lebih menarik akan kita jumpai pada waktu matahari terbit dari arah Laut Jawa. Suhu di puncak bisa mencapai 8 -13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam 1,5 jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya, diperlukan waktu 2,5 jam.

Dari Puncak kearah kiri 15 - 20 menit perjalanan, kita akan jumpai 3 buah cerukan, yang posisinya lebih rendah dari puncak dinding kawah, tempat yang cukup nyaman untuk bermalam dan berlindung dari tiupan angin kencang dari arah kawah.

Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun, dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan. Karena itu perlengkapan tidur (sleeping bag, tenda dsb.), dan perlengkapan masa adalah suatu keharusan.

Pendakian pada musim kemarau cukup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin, serta pemandangan lebih cerah.

Jalur Palutungan

Jalur Palutungan tidak terlalu curam seperti jalur Linggarjati, tetapi kita harus menambah waktu tempuh 2-3 jam. Dari Terminal Kuningan kita bisa langsung menuju Desa Palutungan yang jaraknya 9 km dengan Angkutan Pedesaan. Fasilitas telepon Interlokal terakhir tersedia di Kuningan. Di Palutungan hanya ada toko-toko kecil, maka sebaiknya keperluan logistik untuk bekal pendakian dipenuhi di Kuningan. Di Desa Palutungan terdapat areal perkemahan yang bernama Bumi Perkemahan Erpah, perjalanan hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan setiap hari libur banyak pengunjung berwisata di tempat ini. Persedian air untuk pendakian sebaiknya disiapkan di desa ini dan untuk menginap.


 tngc
            

       
        
             
              
       
Dari Palutungan pendakian kita teruskan melalui Cigowong Girang (1.450 m.dpl), selama 3 jam perjalanan, dimana terdapat sebuah sungai kecil yang lebarnya ± 1 - 1,5 m. Disini kita bisa menambah persediaan air dan mendirikan tenda di tempat ini, walaupun tempatnya kurang memadai dan suhu sudah cukup dingin. Selanjutnya kita akan memasuki hutan dan melalui Blok Kuta (1.690 m.dpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 m.dpl).

Perjalanan kita teruskan dengan melewati Blok Arban (2.030 m.dpl), kemudian Tanjakan Assoy (2.108 m.dpl). Di tempat ini kita bisa beristirahat sebelum melewati tanjakan yang cukup curam. Dari Cigowong Girang diperlukan waktu 4-5 jam menuju tempat ini. Selanjutnya kita akan melewati Blok Pesanggrahan (2.450 m.dpl) dan Blok Sanghyang Ropoh (2.590 m.dpl), kemudian kita akan sampai pada pertigaan (2.700 m.dpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Kira-kira 2 jam waktu tempuh dari Tanjakan Assoy ke pertigaan ini. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 m.dpl) dan ke puncak Sunan Cirebon, yang diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan.

Jalur Maja (via Apui, Cipanas )

Untuk mencapai kampung Apui, Cipanas. Dari arah kota Cirebon naik bus menuju ke Majalengka, lalu dilanjutkan dengan naik minibus menuju ke Maja (556 m dpl). Setelah sampai di Maja kita turun dan naik lagi Angkutan Pedesaan menuju ke Desa Cipanas. Di Desa Cipanas kita akan menemui lahan bekas perkebunan Teh Argalingga yang sangat luas tapi sekrang telah berubah menjadi lahan sayur-sayuran. Di sini saat matahari tenggelam di ufuk barat pemndangannya sangat indah.

Dari desa Cipanas, perjalanan kita teruskan menuju ke kampung Apui (1.100 m dpl) dengan angkutan pedesaan. Setiba di kampung Apui kita mempersipakan kebutuhan air karena sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air. Kampung Apui, Mayoritas penduduknya Sunda dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Jalan masuk ke kampung ini banyak terdapat tanjakan - tanjakan dengan kemiringan hampir 70 derajat.

Awal pendakian dimulai melewati perladangan dan hutang produksi selam 3-4 jam kita akan sampai di Berod. Disini kita akan menemui pertigaan, kita ambil yang ke arah puncak). Setiba di Berod perjalanan kita teruskan menuju ke Simpang Lima (Perempatan Alur), perjalanan memakan waktu sekitar 0,5 jam dari Berod, lalu di teruskan menuju Tegal Mersawah. Di Tegal Mersawah perjalanan langsung kita teruskan menuju ke Pangguyangan Badak. Disini kita bisa beristirahat. Perjalanan kita teruskan 2 jam lagi kita akan sampai di Tegal Jumuju (2.520 m dpl).


lereng 

Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah menuju terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.

Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.

Bila kita mendaki lewat Desa Linggarjati, kita harus melapor ke petugas PERHUTANI, Pak Juned untuk perbaikan pondok pendaki. Pak Juned dapat memberi informasi tentang jalur pendakian Gunung Ciremai, juga bisa membantu mencarikan pemandu atau porter. Bila kita lewat jalur Apui kita melapor dahulu kepada PERHUTANI unit Apui.Untuk mencari Pemandu gunung dapat di cari di Apui. Bila terjadi keadaan darurat saat melakukan pendakian di Gunung Ciremai selain menghubungi aparat desa setempat,bisa juga menghubungi Organisasi Pencinta Alam, AKAR di Kuningan dan WANADRI di Bandung.

Kampung Naga

Di tengah derasnya laju budaya global yang menggerus budaya lokal, ternyata masih ada sekelompok masyarakat yang tetap teguh mempertahankan adat istiadat serta tidak terpengaruh dengan hiruk-pikuk laju globalisasi. Kelompok masyarakat tersebut tetap bersetia dan bertahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan, serta menjalankan semua tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Mereka adalah penduduk Kampung Naga.



 Kampung Naga   

Kampung Naga merupakan sebuah kampung atau desa tradisional yang terletak di tepi jalan raya Garut-Tasikmalaya. Disebut tradisional karena mereka masih konsisten dalam mempertahankan adat istiadat serta budaya leluhur. Hal ini sangat berbeda jauh dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Penduduk Kampung Naga juga hidup pada suatu tatanan yang penuh nuansa kesederhanaan. Bagi masyarakat Kampung Naga, kepatuhan dalam menjalankan adat merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur (karuhan). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhan dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan yang dihuni sekitar 311 jiwa ini terletak di lembah subur di tepi Sungai Ciwulan. Perkampungan ini terbagi dalam beberapa wilayah seperti wilayah hutan, sungai, persawahan, dan perumahan. Setiap area memiliki batas-batas tersendiri dan tidak boleh dilanggar. Karena, dalam kepercayaan mereka, di tiap batas wilayah terdapat makhluk halus sebagai penunggunya. Jika batas dilanggar, makhluk halus tersebut akan marah sehingga terjadilah petaka. Oleh karena itu, penduduk tidak boleh mendirikan rumah di area persawahan, begitu pula sebaliknya, karena hal ini berarti melanggar ajaran karuhan.

Di Kampung Naga terdapat 111 bangunan yang terdiri dari 108 rumah hunian, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan, dan lumbung diletakkan sejajar menghadap ke arah timur-barat. Di depan bangunan-bangunan tersebut terdapat halaman luas yang digunakan untuk upacara adat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan. 


    

  Arsitektur Bangunan di Kampung Naga

Rumah-rumah di Kampung Naga berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan anyaman bilah bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Desain arsitektur dan interiornya sederhana namun tertata apik, sehingga udara dan cahaya tersirkulasi dengan baik. Selain itu, bangunan di Kampung Naga ini juga tahan gempa. Hal itu terbukti saat gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Tasikmalaya pada Rabu, 2 September 2009 silam, tak ada satu pun rumah warga Kampung Naga yang roboh atau mengalami kerusakan yang berarti. Oleh karena itu, Kampung Naga akan dijadikan percontohan sertifikasi desain arsitektur bangunan hijau dan hemat energi Indonesia oleh Green Building Council of Indonesia (GBCI).

Keistimewaan

Daya tarik utama yang dimiliki oleh Kampung Naga adalah suasananya yang sangat tenang dan damai, di mana masyarakatnya masih berpegang teguh pada tradisi serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal – satu hal yang sudah sulit ditemui di perkampungan modern dewasa ini.  Sebelum Anda menjejakkan kaki di wilayah perkampungan, Anda harus berjalan menuruni beratus-ratus sengked (anak tangga) yang cukup curam, sehingga saat hujan turun Anda harus berhati-hati jika tidak mau terpeleset dan terjatuh. Namun, perjuangan Anda tidaklah sia-sia, karena di sepanjang jalan Anda akan disuguhi dengan panorama yang sangat mempesona. Sawah menghijau, Sungai Ciwulan yang mengalir berkelak-kelok, kicau burung, gemericik air mengalir, hembusan angin, semuanya menghasilkan komposisi nyanyian alam yang indah.

  
Jalan Menuju Kampung Naga dan Keindahannya

Di Kampung Naga terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh pengunjung, antara lain tidak boleh berkata sembarangan, tidak boleh mengganggu hewan yang ada, dan tidak boleh mematahkan ranting-ranting pohon. Peraturan itu tidak hanya untuk wisatawan saja, melainkan juga berlaku bagi penduduk lokal. Bahkan, bagi penduduk asli Kampung Naga terdapat lebih banyak peraturan atau yang mereka sebut sebagai pamali. Sebagai contoh, mereka tidak boleh mengecat rumah mereka kecuali menggunakan kapur, tidak boleh membangun rumah menggunakan batu bata dan semen, tidak boleh mengadakan pertunjukan seni selain kesenian asli Kampung Naga, dan masih banyak peraturan lainnya. Bagi orang luar aturan tersebut mungkin terlihat tidak masuk akal, namun justru beranjak dari pamali dan kearifan lokal itulah kelestarian Kampung Naga tetap terjaga.

Selain itu, hampir sama dengan masyarakat Badui, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang maupun peralatan modern masuk ke kampung mereka. Bahkan, jaringan listrik pun tidak diperkenankan masuk ke kampung ini. Oleh karena itu, saat malam tiba suasana menjadi begitu gelap. Hanya ada sinar teplok atau lentera sebagai penerang utama di rumah-rumah. Sedangkan untuk penerangan di jalan-jalan, mereka terbiasa menggunakan suluh. Namun, justru itulah yang menjadi keunikan ketika Anda menginap di kampung ini – suasana perdesaan yang benar-benar menyatu dengan alam.


  
Keelokan Panorama Kampung Naga

Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, tak jauh dari Kampung Naga terdapat dua air terjun kecil yang berfungsi sebagai pembatas wilayah dan sumber pengairan pada musim kemarau. Anda bisa bermain-main di air terjun ini. Namun, menjelang maghrib Anda harus bergegas, karena ada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat bahwa barang siapa yang mandi di air terjun tersebut menjelang maghrib pasti akan kesurupan. 

Sebagai warga sebuah kampung adat, penduduk Kampung Naga juga kerap melaksanakan upacara adat. Upacara tersebut biasa dilaksanakan pada bulan Maulud dan Syawal (kalender Hijriah). Wisatawan yang ingin menyaksikan upacara tersebut harus mematuhi semua peraturan yang berlaku selama upacara adat berlangsung. 

  
Kesenian Tradisional Kampung Naga

Lokasi

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. 

Akses

Terletak di jalan raya Garut-Tasikmalaya membuat Kampung Naga mudah untuk dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Kampung ini terletak di lembah Sungai Ciwulan, berjarak sekitar 500 meter di bawah jalan raya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya sekitar 30 kilometer dan 26 kilometer dari Kota Garut. Sedangkan dari Bandung, Kampung Naga berjarak 90 km.

Harga Tiket

Wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga tidak perlu membayar tiket masuk. Disarankan, wisatawan yang ingin berkunjung ke Kampung Naga agar tidak datang pada hari Selasa, Rabu, atau Sabtu. Sebab, pada hari-hari tersebut masyarakat Kampung Naga sedang melakukan ritual menyepi, yakni usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal-usul kampungnya.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Walaupun Kampung Naga merupakan obyek wisata yang cukup populer di Jawa Barat, hingga saat ini tidak ada aliran listrik di Kampung Naga. Wisatawan yang ingin menginap di kampung ini harus minta izin kepada kuncen (sesepuh kampung) jauh-jauh hari dan bersiap dengan fasilitas yang seadanya, namun justru sangat dekat dengan alam.

Sebagian besar penduduk Kampung Naga berbicara dalam bahasa Sunda, oleh karena itu bagi wisatawan yang tidak bisa berbahasa Sunda disarankan menyewa jasa pemandu. Di tempat ini terdapat banyak pemandu yang bisa menemani perjalanan Anda. Jumlah tarif fleksibel dan bisa dibicarakan.

Meskipun Kampung Naga terletak jauh di bawah jalan raya, jika Anda membawa kendaraan pribadi Anda tidak perlu khawatir. Di pintu gerbang Kampung Naga terdapat pelataran luas yang dijadikan tempat parkir kendaraan pengunjung. Di seputaran tempat parkir terdapat kios penjual suvenir anyaman khas Tasikmalaya buatan penduduk Kampung Naga serta warung makan.

 




 

Situ Gede

Kota Tasikmalaya terletak di antara Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Kota santri ini memiliki beberapa potensi wisata yang cukup mengagumkan, salah satunya adalah Situ Gede. Oleh warga setempat, danau alami ini lebih dikenal dengan nama Situ Ageng. Situ Gede memiliki luas lebih kurang 47 hektar dengan kedalaman air antara 1,5 meter sampai dengan 6 meter. 

Situ Gede menjadi tempat tujuan wisata favorit karena danau ini merupakan obyek wisata alam satu-satunya yang ada di wilayah pemerintahan Kota Tasikmalaya dan dekat dengan pusat kota. Danau ini merupakan salah satu obyek wisata air yang paling potensial di wilayah Priangan Timur dan dikunjungi oleh cukup banyak pelancong dari dalam maupun luar kota, bahkan dari luar daerah. Berdasarkan data dari situs resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya, rata-rata tingkat kunjungan wisatawan ke obyek wisata Situ Gede mencapai 9.950 orang/tahun. 



   


Situ Gede Tahun 1939







Kuliner

Kartika Sari

Oleh oleh Bandung identik dengan Kartika Sari. Rasanya belum ke Bandung kalau belum bawa oleh-oleh dari Kartika Sari. Jika ke Bandung,  ya mampir ke Kartika Sari…

Setiap harinya Kartika Sari selalu dikunjungi oleh para wisatawan dari pelosok Nusantara bahkan dari wisatawan mancanegara.
Mengapa Kartika Sari menjadi pilihan favorit Oleh Oleh Bandung ? Produk Kartika Sari sangat nikmat dan terjaga kualitasnya sehingga sangat cocok sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman,  dan kolega Anda.
 
KartikaSari.com hadir untuk memuaskan para pelanggan setia oleh-oleh Bandung yang kangen dengan citarasa Kartika Sari. Harapan kami, Oleh Oleh Bandung ini bisa menjadi oleh-oleh nusantara yang senantiasa hadir ditengah-tengah anda dimanapun anda berada.

Produk Berkualitas dari  Kartika Sari yang juga merupakan Pionir Oleh-Oleh Bandung diantaranya adalah…Pisang Bollen

Pisang Bollen (keju) adalah produk andalan utama Kartika Sari. Ada Pisang Bollen (keju) dan Pisang Bollen (Keju) Coklat. Varian Bollen lainnya ada Peuyeum (Tape) Bollen, Durian Bollen dan Kacang Hijau Bollen.

Kami juga menyediakan Brownies Panggang dan Brownies Kukus dengan berbagai varian rasa juga. Bagi pencinta keju, ada Cheese Stick dan Cheese Roll yang special…

Kartika Sari Kebun Kawung
Jl. H. akbar no. 4
Kebon Kawung – Bandung
Tlp. 022 4231355 – 4200441   
                               
Kartika Sari Kebun Jukut
Jl. Kebon Jukut no. 3C
Bandung
Tlp. 022 4230397

Kartika Sari Buah Batu
Jl. Buah Batu no. 165 A

Bandung
Tlp. 022 7319385

Kartika Sari Dago
Jl. Ir. H. Djuanda no. 85
Bandung
Tlp 022 2509500

Kartika Sari Kopo
Jl. Kopo Sayati no. 111 A Bandung

Tlp. 022 5414340

Kartika Sari Terusan Jakarta
Jl. Terusan Jakarta no. 77E
Bandung
Tlp. 022 7101280

MADAME SARI Restaurant
Kartika Sari Dago
Jl. Ir. Juanda no 85
Tlp 022-2509495

Kartika Sari Cimahi
Jl. Raya Timur no. 518

Cimahi
Tlp 022 6656280

Jakeju – Pusat Jajanan Kuliner Bandung
Jl. Kebon Jukut no.3c-e

Telp 022-422-1975

MADAME SARI Restaurant
Kartika Sari Buah Batu
Jl. Buah Batu no. 165 A
Tlp 022-7318485

 

Pantai Sindang Kerta Penetasan Penyu

Pantai Sindangkerta merupakan pantai landai dengan hamparan pasir putih yang mempunyai taman laut yang indah serta merupakan tempat habitat penyu (celonyamidas) dalam penetasan telur-telur mereka. Di pantai ini juga terdapat penangkaran penyu dengan koordinat 7°46,043′S 108°4,463′E, yang berfungsi penyeimbang ekosistem penyu yang ada di daerah ini agar terhindar dari kepunahan.

Pantai ini bisa digunakan untuk berenang ketika kondisi laut sedang surut, sedangkan di taman lautnya dapat kita temukan berbagai macam ikan hias yang beraneka warna dan suaka satwa alam penyu hijau yang langka. Atraksi lain yang bisa dilakukan oleh wisatawan ketika berkunjung ke pantai ini adalah lomba melepas penyu yang dilaksanakan oleh balai penangkaran penyu sebagai penyeimbang ekosistem penyu di daerah ini.

Bagi wisatawan yang tertarik lebih jauh dan ingin mempelajari tentang penyu, wisatawan bisa menginap di pantai ini untuk melihat penyu-penyu langka ini menetaskan telurnya yang kemudian dikubur oleh induk penyu di area pantai ini sampai kemudian telur-telur penyu ini menetas.

Terletak kurang lebih 4 km dari pantai Cipatujah.

Pantai Cipatujah ( Tasikmalaya )

Pantai Cipatujah merupakan pantai berkarang yang kaya akan terumbu-terumbu untuk ikan-ikan bertelur dan berkembang biak. Pantai ini merupakan pantai yang terlebar dan terpanjang di kawasan Pantai Selatan dengan koordinat 7°44,859′S 108°0,634′E, memiliki pasir besi sehingga sangat baik untuk berjemur dan melakukan aktivitasi rekreasi pantai lainnya.

Keindahan Pantai Cipatujah terlihat dari perpaduan hamparan pantai yang landai, gelombang laut yang besar dan perkebunan kelapa yang subur serta hamparan rumput yang luas. Para peternak kerbau yang tinggal disekitar daerah pantai kerap menggembalakan kerbaunya di padang ini dan sesekali mengadakan atraksi balap kerbau yang diiringi tabuhan pencak , rampak kendang ditambah angklung yang banyak mengundang orang untuk menontonnya.

Banyak aktivitas pantai yang biasa dilakukan oleh wisatawan ketika berkunjung ke daerah ini seperti berenang, voli pantai, sunbathing, memancing di muara sungai Cipatujah dll.
Fasilitas yang ada: 
Kios Wisata, Penginapan, Pondok Wisata, Warung-warung makanan dan minuman, Tempat Botram, Panggung Hiburan, Balawista, Gazebo dan Tempat Parkir yang luas.

Obyek wisata pantai Selatan Cipatujah meliputi area kurang lebih 115 hektar, terletak kurang lebih 74 km dari pusat kota Tasikmalaya.

Taman Bunga Nusantara

Taman Bunga Nusantara ialah objek wisata agro yang merupakan aset nasional dengan skala internasional diresmikan oleh presiden kedua Republik Indonesia Soeharto, pada tanggal 10 september 1995.

Taman Bunga Nusantara yang luas totalnya 35 hektar terletak di Jl. Mariwati KM 7, Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Kabupaten Cianjur. Selain taman bunga yang luasnya 23 hektar, ada teman rekreasi, restoran, parkir, dan lain-lain. Taman yang dipenuhi keindahan display warna dan bentuk bunga yang indah dari berbagai belahan dunia sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia.

Maskot Taman Bunga Nusantara

  


Angsa Hitam atau Cygnus Atratus merupakan maskot Taman Bunga Nusantara. Unggas ini dijadikan maskot karena daya tahan tubuhnya yang sangat baik, mudah berinteraksi dan dapat berkembang biak dengan pesat di luar habitat aslinya. Angsa Hitam juga merupakan simbol wisata agro yang berbasis kepada potensi flora dan fauna yang hidup saling berinteraksi secara harmonis dan berkembang untuk selalu beradaptasi dengan lingkungan.

Di taman ini disimpan berbagai tipe bunga dan tanaman, dalam hal ini terutama budi daya anggrek. Diperkirakan ada sekitar 2000 jenis anggrek yang dirawat di tempat ini.

Pihak pengelola taman juga mencoba menata lanskap seluas 23 hektar ini dengan mendesain taman-taman khusus. Maka terhamparlah Taman Air, Taman Mawar, Taman gaya Prancis, Taman gaya Amerika, Taman Palem, Taman gaya Bali, Taman gaya Mediteranian, Taman Bugenvil, atau Taman gaya Jepang.  Selain rumah kaca seluas 2.300 m2.

Taman gaya Perancis



       

Taman gaya Bali


       


      

Taman Kaktus


 

 
Taman Palma


   

Menara Pandang

Habis itu cobalah naik ke Menara Pandang.  Anda bisa menikmati indahnya karunia Tuhan yang tak terkirakan dari ketinggian 28 m.

 
     

Dari atas menara pandang akan terlihat pemandangan alam yang sungguh indah.  Kelihatan juga bundaran bunga dan taman ‘labyrinth’

Taman gaya Jepang


      



      



        

Jika sudah capek menyusuri setiap sudut Taman Bunga Nusantara, Anda boleh melepas lelah sambil menikmati santap siang di tepian Danau Angsa di kedai-kedai penjual makanan dan minuman, atau di Restoran Saung Aki. “Mau minum apa Pak? Kopi, teh atau teh hijau Jenggot?”

Bunga adalah pelipur lara, penyejuk jiwa.  Juga lambang persahabatan, keagungan, dan cinta.

Jl. Mariwati KM 7 Desa Kawungluwuk Kecamatan Sukaresmi Cipanas, Cianjur 43254- Jawa Barat Indonesia