Minggu, 03 Juli 2011

ASAL USUL DAERAH-DAERAH SEKITAR MAJALENGKA

1. ASAL-USUL LEUWIHIEUM

Asal – usul Dusun Leuwihieum masih misteri. Sampai saat ini pun kebenarannya belum pasti. Tapi menurut sesepuh setempat, Dusun Leuwihieum itu dahulunya merupakan sebuah hutan yang kaya akan sumber daya alam. Sehingga datanglah para pendatang yang bertujuan untuk memanfaatkan SDA dan membuat sebuah perkampungan.

Beberapa tahun kemudian, perkampungan tanpa nama itu (yang sekarang Dusun Leuwihieum) penduduknya semakin banyak. Walaupun demikian, perkampungan itu masih saja belum diberi nama dan belum memiliki seorang pemimpin.
Terceritakan pada suatu hari datanglah seorang Raja yang berkunjung ke perkampungan itu. Beliau bernama Raja Kanjeng Dalem Sumedang. Kedatangan Raja itu disambut meriah oleh penduduk di perkampungan itu. Lalu Raja pun ingin mengadakan sebuah pesta di perkampungan untuk merayakan kedatangannya.

Malam hari, saat semua penduduk sibuk dengan persiapan pesta, Raja tertidur pulas. Beliau pun bermimpi, kedatangan seorang kakek – kakek yang mengatakan bahwa Raja harus mengadakan pesta di sebuah Gunung di tengah Kali Cilutung (sekarang disebut Pasir Ngambang). Setelah berkata demikian kakek itu pun menghilang. Saking terkejutnya, Raja pun terbangun.
Keesokan harinya, Raja mengumumkan bahwa pesta akan dipindahkan ke Gunung di tengah Kali Cilutung. Pada dasarnya penduduk heran dan menentang keinginan Raja, tapi akhirnya mereka menyetujuinya.

Saat pesta dimulai secara simbolis, Raja melemparkan keris kedalam air yang dalam ( dalam bahasa sunda itu Leuwi ). Lalu terbentuklah nama Leuwi Keris untuk memperingati kejadian itu.

Banyak sekali penduduk yang menghadiri pesta itu, sehingga pesta berjalan dengan meriah. Tanpa terasa hari sudah larut, penduduk pun pulang ke rumah masing – masing. Raja merasa senang akan pestanya, lalu Raja pun pulang dan beristirahat.

Selama beberapa hari Raja tinggal di perkampungan itu. Hingga pada suatu hari beliau teringat akan pekerjaannya di Kabupaten. Akhirnya beliau memutuskan untuk pulang, lalu beliau berpamitan kepada para penduduk.

Sebelum pergi, seorang penduduk menanyakan kepada Raja tentang nama dan kepemimpinan perkampungan itu. Raja bingung, beliau menganggap perkampungan itu sudah diberi nama dan kepemimpinannya sudah jelas. Raja pun berasumsi, bahwa perkampungan ini dikelilingi oleh Kali Cilutung yang memiliki kedalaman air yang dalam dan tertutupi oleh pepohonan. Lalu raja pun memberi nama perkampungan itu LEUWIHIEUM, yang artinya Leuwi = Air yang dalam dan Hieum = tempat teduh dan gelap.

Tentang masalah kepemimpinan, Raja berpendapat bahwa yang seharusnya memimpin adalah orang yang terpercaya dan memiliki budi pekerti yang luhur menurut keinginan rakyat. Akhirnya penduduk pun memilih Bapak Anteng karena menurut mereka Bapak Anteng adalah orang yang dimaksud oleh Raja. Kejadian itu terjadi pada tahun 1800.

Setelah nama dan kepemimpinan sudah jelas, Raja pun pulang ke Kabupaten. Kepergian Raja sangat disayangkan oleh penduduk karena selain Raja baik hati, Raja juga sangat ramah kepada semua penduduk. Walaupun mereka sedih, tapi mereka senang karena telah memiliki pemimpin yang teladan.

Demikian asal – usul Dusun Leuwihieum, walaupun belum pasti tapi tempat - tempat sejarah yang ada di cerita itu masih ada sampai sekarang.


2. Asal Muasal Desa Tegalaren

Asal muasal Desa Tegalaren yaitu berasal dari kata Tegaliren, yang berarti tempat peristirahatan orang-orang Belanda. Asal mulanya yaitu pada zaman Belanda, pada waktu itu orang-orang kolonial berangkat dari pos penjagaan yang sampai sekarang namanya menjadi desa Sindangwasa.

Kemudian mereka melanjutkan perjalananya menyebrangi sungai Cikeruh yang kemudian sampai sekarang di beri nama kampung Peuntas. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya menuju Batavia, lama mereka berjalan dan lama kelamaan mereka pun kelelahan serta beristirahat di suatu tempat yang teduh dan rindang yang kebetulan tempat itu banyak sekali poho aren. Kata tempat yang disebut juga dengan kata tegal, kemudian ada salah seorang dari mereka yang menyebut tegaliren yang berarti tempat peristirahatan yang penuh dengan pohon aren kata tegaliren berasal dari bahasa jawa.

Lebih jelasnya Tegaliren berasal dari dua kata yaitu tegal dan aren; tegal yang berarti tempat peristirahatan dan aren adalah nama pohon yang ada di tempat itu yaitu pohon aren. Dan sampai sekarang nama tempat itu menjadi Tegalaren. Tegalaren sampai sekarang ini menjadi nama sebuah desa yaitu Tegalaren yang berarti tempat peristirahatan orang orang Belanda yang penuh dengan pohon aren.

Yang Ditakuti Kaum Wanita
Ada seorang direktur perusahaan yang sedang duduk di meja tulis kantornya, tiba-tiba saja telepon yang ada di dekatnya itu berdering.kemudian diangkat dan ternyata yang menelpon itu adalah istrinya di rumah.tetapi sebelum terdengar sepatah katapun istrinya menjerit ketakutan dan setelah mendengar jeritannya itu si direktur tidak mendengar suara apapun sehingga membuatnya panik dan langsung saja menghubungi kantor polisi..Beberapa lama kemudian satu regu polisi bersenjata dikerahkan untuk mengepung rumahnya dan setibanya di rumah itu polisi segera masuk dengan membawa senjata kemudian mereka menemukan wanita itu tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri dan gagang telpon tergantung di meja,.tidak lama kemudian istri direktur itu siuman dan polisi menanyakan peristiwa yang baru saja terjadi. Lalu wanita itu menjawab bahwa dirinya telah diserang dah penyerangnya itu mungkin bersembunyi di dalam rumah kemudian dia mendekati saya, pada saat saya sedang menelpon, setelah mendengar apa yang di katakana wanita itu maka kemudian polisi itu langsung bertanya lagi: ”tolong jelaskan cirri-cirinya”. Istri direktur itu menjawab: ”cirri-cirinya sama seperti tikus-tikus pada umumnya .”

Kantong Rahasia
Pada suatu ketika, ada seorang pergi ke tukang jahit untuk menjahitkan pakaiannya, lalu tukang jahit bertanya : ”apakah anda sudah memiliki istri?” Ssseorang itu menjawab: ”ya”. Mendengar jawaban orang itu ,si tukang jahit langsung berkata :”kalau begitu di sebelah mana kiranya aku harus membuatkan sebuah kantong rahasi?”.


3. ASAL MULA DESA LEBAKSIUH

Dahulu kala disebuah dusun hiduplah sepasang keluarga yang serba sederhana sekali dalam kehidupannya, tetapi meskipun demikian adanya mereka tetap hidup rukun, damai dan saling menyayangi.

Menurut cerita, sepasang keluarga itu adalah pendatang secara tiba-tiba atau mungkin secara kebetulan saja datang ke tempat itu, entah dari mana asal mulanya orang tersebut berada, sebab menurut cerita pada waktu itu dusun tersebut belum berpenghuni sama sekali, dan kemungkinan besar beliau adalah orang kali pertama yang datang dan menghuni dusun itu sampai akhir hayatnya.

Konon menurut cerita, sepasang keluarga itu bernama Ki Buyut dan Istrinya Nyi Mayang dan menurut cerita pula dari orang-orang dan tokoh-tokoh masyarakat setempat bahwa Ki Buyut dan Nyi Mayang adalah sepasang keluarga yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi, mereka disegani, dihormati oleh masyarakat setempat, tetapi meskipun mereka mempunyai ilmu tinggi mereka tidak sombong, bahkan mereka sering menolong orang yang membutuhkannya. Maka disitulah awal nama dusun Lebaksiuh mulai di ketahui atau dikenal oleh masyarakat disekitarnya.

Nama Lebaksiuh diambil dari kata lebak artinya, semacam sungai kecil atau kali yang berada di daerah setempat yang keberadaan airnya jernih, bersih belum tercemar sama sekali, sedangkan kata siuh semacam tumbuhan belukar yang hidup dan tumbuh di pinggir sungai atau kali yang berada di daerah setempat. Memang tumbuhan belukar sekarang ini sangat jarang ditemukan, dan kata masyarakat setempat belukar ini atau areuy dalam bahasa sunda sangat kuat sekali kalau dibuat tali-tali, sangat sulit untuk memutuskannya. Tumbuhan belukar itu tumbuh di pinggiran sungai Cipaingeun yang berada di daerah Lebaksiuh, hulu sungai Cipangeun berasal dari daerah Garut.
Jadi kalau di artikan nama Lebaksiuh berarti sebuah dusun yang berada dipinggiran sungai yang mengelilingi tempat tersebut, dan dulunya tempat itu banyak tumbuh semak belukar atau areuy siuh dan sekarang belukar siuh itu dijadikan simbol bahwa kehidupan masyarakat Lebaksiuh rukun dan damai dalam satu ikatan dan rasa gotong royongnya yang sangat kuat serta adat budayanya yang sangat kuat pula.

Sejalan dengan perkembangan jaman dusun Lebaksiuh cepat sekali mengalami perubahan-perubahan, semula yang tinggal menempati dusun itu hanya sepsang keluarga yaitu Ki Buyut dan Nyi Mayang yang konon katanya masyarakat setempat yang pertama kali memberi nama Lebaksiuh dan nama-nama lain yang berada di daerah lebaksiuh, kemudian mulai di bangun di dusun Lebaksiuh maka jadilah sebuah perkampungan meskipun letak dari rumah ke rumah yang lain masih berjauhan dan berpencilan mulai dari yang jaraknya ratusan meter sampai dengan kiloan meter. Karena dusun Lebaksiuh pada waktu itu cukup luas lingkungannya dan banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di dusun Lebaksiuh.

Kehidupan masyarakat Lebaksiuh pada waktu itu kebanyakan bermatapencaharian bertani dan bercocok tanam dan ada juga yang memelihara hewan ternak seperti kerbau, sapi, biri-biri, kambing dan ayam, karena dengan kesuburan tanahnya banyak rerumputan untuk pakan sapi, kerbau serta kambing, hidup mereka cukup makmur. Hasil panennya selalu berlimpah mulai dari padi sampai palawija, bahkan buah-buahan, apalagi sekarang sudah terkenal dengan penghasilan mangga gedongnya yang pemasarannya sampai ke luar negeri.

Seperti yang telah dibicarakan di atas bahwa Dusun Lebaksiuh mengalami cepat dalam perubahan jaman dan sekarang sudah terbentuklah sebuah desa. Karena perkembangan pendidikannya yang cukup pesat, pemikiran untuk menjadi kepala desa di Dusun Lebaksiuh jaman dulu sangat berbeda dengan jaman sekarang, yang mana orang yang menjadi seorang pemimpin ditunjuk langsung oleh masyarakat malalui para tokoh-tokoh masyarakat dan menurut cerita yang kami himpun di Desa Lebaksiuh sudah mengalami beberapa kepemimpinan kepala desa dari lamanya kepemimpinan tidak ditentukan seperi jaman sekarang ini yaitu lima tahun atau delapan tahun, tetapi kadang-kadang sampai seuimur hidup atau semaunya, tergantung dibutuhkan tidaknya lagi masyarakat setempat.
Di Desa Lebaksiuh terdiri dari tujuh dusun pada waktu itu yakni Dusun Lebaksiuh, Dusun Leuwihieum, Dusun Babakan, Dusun Cibeber, Dusun Ciluwuk, dan Dusun Telaga Datar serta Dusun Legok.

Tokoh-tokoh yang pernah menjadi kepala desa Lebaksiuh yaitu:
1. Masa kepemimpinan Bapak Ateng lamanya seumur hidup.
2. Masa kepemimpinan Bapak Eyang lama kepemimpinannya dua puluh tahunan.
3. Masa kepemimpinan Bapak Dirja lama kepemimpinannya delapan tahun.
4. Masa kepemimpinan Bapak Sukria lama kepemimpinannya dua belas tahun.
5. Masa kepemimpinan Bapak Sukri lama kepemimpinannya delapan tahun.
6. Masa kepemimpinan Bapak Unuk lama kepemimpinannya delapan tahun.
7. Masa kepemimpinan Bapak Adjep lama kepemimpinannya delapan tahun.
8. Masa kepemimpinan Bapak Dirta lama kepemimpinannya delapan tahun.
9. Masa kepemimpinan Bapak Carya lama kepemimpinannya enam tahun.

Dan yang sedang berjalan masa kepemimpinan Bapak Carya lagi beliau menjalani kepemimpinan dua periode.

Desa Lebaksiuh sekarang mengalami pemekaran yaitu dengan desa baru namanya Desa Candrajaya, adapun Dusun-nya yaitu: Dusun Cibeber, Dusun Legok, Dusun Talaga Datar dan Dusun Ciluwuk.

Demikianlah sekilas asal mula Desa Lebak Siuh dari jaman dulu sampai sekarang yang selalu tetap dalam rukun dan cinta damai serta tanahnya yang subur. Dan untuk mengenang para leluhur Desa Lebaksiuh disana ada makam keramat Embah Buyut sampai sekarang masih banyak dikunjungi orang-orang dari luar untuk sekedar jiarah ke makam Embah Buyut, karena mnurut cerita orang-orang yang pernah jiarah ke makan Embah Buyut segala maksud dan tujuan capat tercapai, benar atau tidaknya Wallahualam, hanya Tuhan-lah yang Maha Tahu Segalanya.


4. ASAL NAMA DESA PALASAH

Desa Palasah diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di pemukiman penduduk, nama pohon tersebut namanya pohon PALASAH, pohon tersebut banyak tumbuh di pemikiman masyarakat dan di hutan-hutan lindung yang berada di wilayah desa kami pada waktu dulunya.

Pohon Palasah tersebut sangat banyak sekali manfaatnya untuk kehidupan masyarakat desa kami pada waktu itu, daunnya disamping untuk sarana pembungkus makanan warga, warga juga menjual daun tersebut ke kota (kongsi) Kadipaten dan hasilnya untuk menambah-nambah kebutuhan dapur. Sedangkan pohonnya, masyarakat kami menggunakan pohon tersebut untuk tiang-tiang penyangga rumah dan untuk kayu bakar.
Mengingat banyak sekali tumbuh pohon tersebut dan manfaatnya sangat berarti bagi warga masyarakat maka para leluhur kami menamai desa kami dengan DESA PALASAH.
Agar supaya warga masyarakat kami bisa tumbuh subur guna kehidupan yang lebih maju baik sandang maupun pangan.


5. “ ASAL USUL DESA CIBENTAR “

Sekitar akhir abad ke-18, yaitu tepatnya tahun 1788 terbentuklah kampung bernama kampung BABAKAN.Kampung ini merupakan cantilan dari Desa SUKARAJA,Kampung Babakan pada waktu itu dipimpin oleh Raksa Perbanta.

 
Asal Kata Cibentar
Banyak yang menyebutkan bahwa Desa Cibentar berasal dari kata “Air/Cai” dan kata “Halilintar.Tetapi menurut kehendak Raksa Parbanta bahwa dalam pembuata saluran air itu hendaknya para tokoh/sesepuh dapat menggerahkan segala kesaktiannya,maka dengan segala penuh rasa tanggung jawab,para tokoh tersebut melaksanakannya dengan segala kemampuan & kesaktiannya masing-masing,seperti Embah Dati,dengan kesaktiannya,ia membuat keajaiban kencing di ujung untun memulai pembuatan saluran air yang direncanakan sehingga air kencingnya mengalir bulak-belok kea rah utara Embah Maranggi,dengan kesaktiannya ia bisa mendatangkan angin yang sangat kencana. Embah Modang,dengan kesaktiannya,ia dapat mendatangkan petir/geledek yang besar. Sedangkan Embah-embah yang lainnya,dengan kesaktiannya masing-masing dapat mengeluarkan tenaga yang cukup besar,sehingga mereka dapat membereskan pohon-pohon yang tumbang dan batu-batu yang berantakan guna terbentuknya saluran air.Pembuat saluran air tersebut sepanjang 300M yang dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu hari satu malam.

Karena pembuatan saluran air itu dapat diselesaikan dalam waktu yang sebentar dan air langsung mengalir,maka pada waktu itu, mereka mengambil dari kata Cai/Aia dan kata Sebentar.Dari kedua kata tersebut,akhirnya digabungkan menjadi nama sebuah Desa.Dari sejak tahun itu pula,Desa Cibentar berlaku sebagai suata desa dari Kec.Jatiwangi dan sejak itu kampung Babakan memisahkan diri dari Desa Sukaraja dan menjadi cantilan dari Desa Cibentar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar